Bisnis Makanan Singkong Omset Miliaran
Petinggi Partai Amanat Nasional (PAN) mengangkatnya menjadi model dalam sebuah iklan politik di televisi nasional. Dalam iklan itu, Soetrisno Bachir, Ketua Umum PAN, mengaku kagum pada kiprah seorang pemuda kelahiran Yogyakarta yang berhasil mengangkat makanan berbahan baku singkong menjadi bisnis dengan omset Rp 2 miliar sebulan.
Pemuda yang dimaksud tak lain adalah Firmansyah Budi, pendiri dan pemilik jaringan gerai penjual aneka produk singkong olahan (lapis dan keripik singkong aneka rasa) dengan nama Tela Krezz. Firman kini mengelola lebih dari 700 gerai di seluruh Indonesia yang didukung oleh 101 agen.
Firman mulai bisnisnya tahun 2006 lalu.“Awalnya saya aktif di sebuah LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat). Kemudian saya melihat, kenapa singkong tak bisa dibisniskan?” katanya. Ia kemudian mencoba membuat aneka makanan berbahan baku singkong dengan rasa yang bervariasi. Rasanya meliputi rasa BBQ (barbecue), keju, pizza, balado, pedas, ayam, jagung manis, jagung Amerika, jagung pedas, jagung bakar, sapi panggang, dan sebagainya. Produk-produk itu ia jual di booth kecil. Tak lupa ia memilih nama yang cukup menjual: Tela KreZZ. Nama ini bahkan sudah dipatenkan. Begitu ia mulai bisnisnya pada tahun 2006 di Yogyakarta Tela KreZZ segera mendapat sambutan.
Firman rupanya pintar pula mengembangkan bisnis. Ia tahu jika mengandalkan outlet-nya sendiri bisnis ini tak akan berkembang pesat. Karena itu ia mengadopsi sistem kerjasama business opportunity untuk menjaring mitra-mitranya. Kerjasama ini ditawarkan dengan paket investasi antara Rp 3,5 juta hingga Rp 6 juta untuk tiap outlet. Mitra yang investasinya antara Rp 3,5 juta hingga Rp 4,5 juta disebutnya Mitra Standar yang hanya memperoleh hak standar (untuk mengelola gerainya saja). Besarnya investasi itu juga tergantung wilayahnya. Sedangkan mitra yang investasinya antara Rp 5 juta hingga Rp 6 juta disebut Mitra Eksklusif. Mitra Eksklusif ini memiliki hak yang disebut Firman sebagai Garansi Uang Kembali. ”Jika dalam waktu satu tahun tidak balik modal maka nilai investasi akan dikembalikan kepada Mitra Eksklusif,” kata Firman. Selain itu Mitra Eksklusif juga berhak atas hak Member Gets Member dengan komisi tertentu.
Selain Mitra Standar dan Mitra Eksklusif, Firman menawarkan agen wilayah. “Tela KreZZ merangkul mitra lokal di seluruh Indonesia untuk menjalin kerjasama dalam bentuk keagenan. Keagenan sendiri merupakan perwakilan Tela KreZZ di suatu wilayah yang memiliki hak dan kewajiban tertentu,” ujarnya. Agen ini memiliki hak yang lebih luas dibanding Mitra Eksklusif. Dalam satu wilayah hanya terdapat satu agen. Tentu saja pendapatannya tidak hanya berasal dari hasil penjualan produk di outlet yang dimilikinya, tetapi juga dapat melakukan penjualan outlet kepada mitra-mitra di wilayahnya.
Menurut Firman, investasi untuk jadi agen sebesar antara Rp 12 juta hingga Rp 15 juta. Perbedaan besarnya investasi itu tergantung pada wilayah atau kotanya. Agen di wilayah yang prospek usahanya lebih baik investasinya juga lebih mahal. Untuk mendorong banyaknya agen itu Firman memberikan sejumlah iming-iming yang menarik. “Dengan investasi total Rp 12 juta-Rp 15 juta itu agen sudah mendapatkan lisensi keagenan, training produksi, dukungan sistem manajemen dan operasional, serta bonus budget pembuatan outlet dan perlengkapan awal sebesar Rp 1,5 juta,” tuturnya.
Saat ini Tela KreZZ sudah memiliki 101 agen. Sedangkan jumlah outlet-nya sebanyak 700-an outlet yang tersebar mulai dari Yogyakarta, Semarang, Sragen, Magelang, Wonosobo, Purworejo, Grobogan, Kudus, Demak, Jepara, Pandeglang, Serang, Malang, Surabaya, Jakarta, Depok, Balikpapan, sampai Samarinda, dan lain-lain. Desember lalu bahkan Tela Krezz sudah buka pula di tanah Papua.
Setiap gerai seharinya bisa menjual 20-200 pak Tela Krezz yang harganya minimal Rp 3.000/pak. Jika 100 pak saja yang terjual sehari di tiap gerobaknya maka dalam sebulan pengelola Tela Krezz mendapat pemasukan sekitar Rp 9 juta. Jika dihitung seluruhnya 700 cabang berarti total omset Tela Krezz mencapai sekitar Rp 6,3 miliar/bulan. Jadi, jangan dikira bisnis makanan dari singkong omsetnya kecil seperti yang dikenal selama ini.
sumber: majalahduit.co.id
Milyarder Termuda Sejak Umur 14 Tahun
Tapi, mungkin lebih tepat lagi kalau disebut “ngebut”, karena ia benar-benar mencapai impiannya dengan usahanya sendiri, dan tentunya dukungan dari keluarga dan rekan-rekannya. Gray ialah seorang anak muda yang begitu menginspirasi banyak orang. Dahulu, pria kelahiran tahun 1984 ini tinggal bersama keluarganya di sebuah apartemen kelas bawah, yang toiletnya sering macet dan banyak dihuni kecoak. Rasa sayangnya terhadap keluarga membuatnya ingin memberi yang terbaik bagi mereka, seperti apa yang sering ia lihat di layar televisi.
Pikiran Farrah Gray yang sudah begitu berpandangan ke depan membuatnya berkeputusan untuk mencari uang dengan cara berjualan ketika berusia 6 tahun. Apa yang ia jual waktu itu pun cukup sederhana, yaitu batu yang ia lukis sendiri sebagai ganjalan pintu. Ia berjualan keliling dari rumah ke rumah, dan bahkan membuat kartu namanya sendiri. Di dalam kartu nama tersebut, ia menyebut dirinya sebagai “CEO Abad 21”.
Suatu saat, ia memberi kartu namanya pada seseorang yang bernama Roy Tauer. Tentu saja ia terkesan dengan kartu nama bertuliskan “CEO Abad 21” yang dimiliki oleh seorang anak yang berusia sekitar 8 tahunan waktu itu. Tauer kemudian melihat adanya ambisi entrepreneurship dalam diri Gray, sehingga ia mengajaknya mendirikan sebuah klub bisnis yang diberi nama U.N.E.E.C ( dibaca Unique, singkatan dari Urban Neighborhood Economic Enterprise Club). Klub itu sendiri adalah sebuah organisasi yang mendorong anak-anak muda menjadi pengusaha.
Di usianya yang ke-11, Farrah Gray kemudian mendapat wawancaranya yang pertama di KVBC Channel 3. Tiga tahun kemudian, di usianya yang ke-14, Gray secara resmi berhasil menjadi seorang milyarder muda dari penjualan yang menembus $1.5 juta dolar dari perusahaan Farr-Out Food miliknya. Kerajaan bisnisnya bertambah lagi ketika ia mengakuisisi majalah Innercity di usia 19 tahun.
Berkat kiprah Farrah Gray dalam bidang bisnis dan juga kepemimpinan & integritasnya, ia mendapat gelar Doktor kehormatan dari Allen University. Buku-buku yang ditulisnya pun laris manis, dan buku yang melambungkan namanya yang berjudul Reallionaire telah dipuji berbagai kalangan, termasuk mantan presiden A.S. Bill Clinton serta pengarang Chicken Soup For The Soul, Jack Canfield dan Mark V. Hansen.
Dengan berbagai prestasinya yang luar biasa dan usianya yang masih muda itu, Gray tentunya masih memiliki banyak cita-cita. Gray mengatakan bahwa tujuan hidupnya adalah untuk terus tumbuh, berkembang, dan memberi sumbangan atau kontribusi pada masyarakat. Jiwa sosialnya ini telah ia buktikan dengan berdirinya Farrah Gray Foundation, sebuah yayasan yang fokus pada pendidikan entrepreneurship bagi anak muda, di mana ia menyumbangkan honornya sebagai seorang pembicara.
Farrah Gray adalah seorang pemuda yang dinamis dan optimis, yang senantiasa percaya akan kata-kata neneknya yang berbunyi:
“’If better is possible, than good is just not enough.” (Jika kita bisa melakukan yang lebih baik, maka bagus saja belum cukup.)
Riezka, Jual Pisang Ijo Raup Omzet Ratusan Juta



